Sejak April 2026, warga Sampit dibuat resah oleh antrean panjang di hampir seluruh SPBU kota. Pemandangan kendaraan mengular hingga ratusan meter kini menjadi hal yang biasa terlihat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Tidak sedikit warga yang harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain hanya demi mendapatkan BBM. Sebagian bahkan rela antre berjam-jam hingga malam hari.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Antrean Panjang Terjadi Hampir di Semua SPBU
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah SPBU di Sampit mengalami lonjakan antrean kendaraan secara drastis. Beberapa titik yang paling terdampak di antaranya berada di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MT Haryono, hingga Jalan Tjilik Riwut Km 3.
Banyak warga mengaku harus mendatangi beberapa SPBU sekaligus karena stok Pertalite maupun Pertamax di beberapa lokasi kosong.
Salah satu sopir taksi di Sampit, Yogi, mengaku harus berkeliling hingga empat SPBU hanya untuk mendapatkan BBM.
“Saya sudah keliling 4 SPBU, dua kosong, dua lainnya antreannya luar biasa panjang.”
Antrean yang meluber hingga ke badan jalan juga mulai mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas masyarakat sekitar.
Penyebab Utama Krisis Antrean BBM
1. Harga BBM Non-Subsidi Melonjak Tajam
Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi salah satu faktor utama yang memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat dan industri.
Harga Pertamax Turbo dilaporkan melonjak dari sekitar Rp13 ribuan menjadi hampir Rp20 ribu per liter. Sementara Dexlite mengalami kenaikan hingga menyentuh kisaran Rp27.900 per liter.
Lonjakan ini disebut dipengaruhi situasi geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah dan terganggunya distribusi minyak dunia.
Akibatnya, banyak pihak mulai mencari alternatif BBM yang lebih murah.
2. Industri Diduga Beralih ke SPBU Umum
Kondisi semakin rumit ketika muncul dugaan bahwa sejumlah perusahaan industri ikut membeli BBM di SPBU umum.
Harga BBM industri yang disebut mencapai Rp30 ribu–Rp34 ribu per liter membuat sebagian pelaku usaha memilih mencari BBM yang lebih murah di SPBU rakyat.
Padahal secara aturan, distribusi BBM industri dan BBM masyarakat umum memiliki jalur berbeda.
Jika praktik ini benar terjadi secara masif, maka dampaknya langsung terasa bagi masyarakat karena stok BBM di SPBU cepat habis dan antrean menjadi semakin panjang.
3. Dugaan Pelangsiran dan Mafia Solar
Selain faktor industri, masyarakat juga menyoroti dugaan praktik pelangsiran BBM subsidi yang dilakukan oknum tertentu.
Modus yang sering dikeluhkan warga adalah pembelian BBM subsidi dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Praktik seperti ini bukan hanya merugikan negara, tetapi juga memperparah kelangkaan BBM bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pelaku usaha di Kotawaringin Timur mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan agar situasi tidak semakin memburuk.
Dampak yang Mulai Dirasakan Warga
Krisis antrean BBM tidak hanya membuat masyarakat lelah antre, tetapi juga mulai berdampak ke berbagai sektor ekonomi.
UMKM dan Pedagang Tertekan
Biaya operasional meningkat karena distribusi barang menjadi lebih mahal dan memakan waktu lebih lama. Sebagian pelaku usaha kecil mulai mengeluhkan penurunan keuntungan.
Harga Material Bangunan Naik
Kenaikan biaya transportasi ikut mendorong harga material seperti pasir dan tanah kuning mengalami kenaikan cukup signifikan.
Sopir dan Transportasi Umum Terganggu
Sopir taksi, ojek, hingga kendaraan logistik mengalami keterlambatan operasional karena waktu habis untuk mengantre BBM.
Potensi Konflik Sosial
Ketegangan di area SPBU juga mulai meningkat akibat antrean panjang dan keterbatasan stok BBM. Beberapa insiden perselisihan antar pengantre dilaporkan mulai terjadi.
Apa yang Sudah Dilakukan?
Sejumlah langkah mulai dilakukan untuk mengurangi antrean dan menjaga stabilitas distribusi BBM di Sampit.
Pihak terkait disebut telah menambah pasokan harian BBM, sementara aparat kepolisian mulai melakukan patroli dan pengawasan di beberapa SPBU.
Di sisi lain, masyarakat juga mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah lebih tegas, termasuk:
- Mengaktifkan kembali pengawasan distribusi BBM
- Menindak praktik pelangsiran ilegal
- Mengawasi pembelian BBM oleh industri
- Membuka dialog bersama masyarakat dan pelaku usaha
Masyarakat Menunggu Solusi Nyata
Bagi warga Sampit, persoalan ini bukan sekadar antrean panjang di SPBU. Dampaknya sudah mulai terasa terhadap ekonomi keluarga, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari.
Masyarakat berharap kondisi segera membaik dan distribusi BBM bisa kembali normal tanpa harus mengorbankan kebutuhan rakyat kecil.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan warga bukan hanya penjelasan — tetapi solusi nyata.

0 Komentar